Mush’ab Bin ‘Umair

Mush’ab Bin ‘Umair Date: Tue, 11 Jul 1995 01:13:07 -0500 From: Komite Tarbiyah Isnet Subject: *** MUSH’AB BIN ‘UMAIR – Utusan Sang Utusan *** To: is-lam@macc.wisc.edu, mus-lim@macc.wisc.edu

MUSH’AB BIN ‘UMAIR

Utusan Sang Utusan

Sepulang dari mengikat janji dengan RasuluLlah di lembah Aqabah, ummat Islam Yastrib segera pulang kembali ke kotanya dan mulai menyusun strategi da’wah yang akan diterapkan di Yastrib. Situasi “ipoleksus” Yastrib saat itu benar-benar memerlukan pemikiran dan kerja bersama untuk menghadapinya. Saat itu jalur ekonomi dan politik dikuasai oleh orang-orang Yahudi. Sistem riba yang diterapkan Yahudi sangat mengganggu roda perekonomian, dimana kesenjangan antara kaya dan miskin terama t kentara.

Sementara itu kesatuan masyarakat Yastrib yang terdiri dari berbagai suku, selalu dalam kondisi terpecah dan saling curiga, ditambah dengan intrik-intrik Yahudi yang selalu meniupkan rasa permusuhan di antara mereka. Opini umum saat itu juga dikuasai Yahudi. Kedaan diperparah dengan kepercayaan tradisi leluhur dan animisme yang membelenggu cara berpikir masyarakat. Singkatnya, jalan da’wah di Yastrib masih terasa teramat sulit.

Hasil pengamatan lapangan ini semua memerlukan analisis dan penyusunan strategi yang briliant, dan juga sekaligus “bil-hikmah” serta “istiqomah”. Perlu pendekatan kompromistis tanpa harus menyelewengkan nilai-nilai al-Islam. Mereka berpikir keras dan menyusun strategi. Akhirnya diputuskan untuk menempuh jalan da’wah sirriyyah (da’wah secara diam-diam).

Dalam musyawarah pasca Aqabah itu, diputuskan juga untuk menugaskan seseorang untuk menghadap RasuluLlah, meminta kepada beliau untuk mengirimkan seorang da’i dan instruktur ke Yastrib. Da’i ini dipandang sangat perlu untuk mengajar “alif-ba-ta”nya ajaran-ajaran Al-Qur’an, sekaligus menjadi “uswah” mereka dalam cara hidup yang Islami. Menurut mereka inilah cara terbaik untuk meningkatkan akselerasi da’wah di Yastrib, tanpa harus kehilangan arah.

RasuluLlah sangat menghargai nilai strategis yang telah diputuskan oleh kaum muslimin Yastrib, beliau juga sangat memahami obsesi yang mereka miliki saat itu. Akhirnya, beliau memutuskan untuk mengabulkan permohonan delegasi Yastrib, serta menunjuk Mush’ab al-Khair bin ‘Umair RA. Tentunya bukan tanpa alasan RasuluLlah memilih pemuda pendiam yang satu ini. Beberapa sisi kehidupan yang ada pada diri Mush’ab sangat menentukan dalam mengantarkannya m enduduki jabatan penting ini. Ia adalah kader RasuluLlah hasil binaan dan tempaan madrasah Arqom bin Arqom. Dengan begitu kualitas dan taat asasnya sangat terjamin.

Mush’ab adalah tipe muslim yang mengutamakan banyak kerja. Dengan sikap “sami’na wa atho’na”, Mush’ab menerima tugas yang diamanahkan RasululuLlah ke atas pundaknya. Jadilah ia seorang utusan dari Sang Utusan. Dengan segera, sesampainya di Yastrib, Mush’ab menemui para naqib (pimpinan kelompok) yang ditunjuk RasuluLlah di Aqabah. Dengan mereka, Mush’ab membuat koutline langkah-langkah da’wah yang akan mereka lakukan. Untuk menghindari benturan langsung dengan masyarakat Yahudi, yang saat itu sangat geram karena mengetahui bahwa Nabi Terakhir ternyata bukan dari kalangan mereka, Mush’ab menetapkan untuk mempertahankan jalan da’wah secara sirriyyah. Disamping itu, ditetapkan kuntuk mempertinggi intensitas da’wah kepada beberapa kabilah, terutama Aus dan Khajraj, karena kedua kabilah ini dinilai sangat potensial dan merupakan kunci dalam memudahkan jalan da’wah.

Mush’ab bin Umair terjun langsung memimpin para naqib dalam berda’wah. Beliau berda’wah tanpa membagi-bagikan roti dan nasi atau jampi-jampi. Ia meyakini Islam ini adalah dienul-haq, dan harus disampaikan dengan haq (benar) pula, bukan dengan bujukan apalagi paksaan. Mush’ab terkenal sangat lembut namun tegas dalam menyampaikan da’wahnya, termasuk ketika ia diancam dengan pedang oleh Usaid bin Khudzair dan Sa’ad bin Muadz, dua pemuka Bani Abdil Asyhal. Dengan tenang, Mush’ab berkata: “Mengapa anda tidak duduk dulu bersama kami untuk mendengarkan apa yang saya sampaikan? Bila tertarik, alhamduliLlah, bila tidak, kami pun tidak akan memaksakan apa-apa yang tidak kalian sukai.” Keduanya terdiam dan menerima tawaran Mush’ab, duduk mendengarkan apa yang dikatakannya. Mereka ternyata tidak hanya sekedar tertarik, dengan seketika keduanya bersyahadat … dan tidak itu saja mereka kembali kepada kelompok masyarakatnya dan mengajak mereka semua memeluk Islam.

Page 1 of 2 | Next page